Gw menulis ini terinspirasi oleh buku Mas Rene Suhardono dimana salah satu babnya ngebahas 'career triangle' dan baca TL twitter or denger curhatan teman yang mengeluh atas pekerjaannya sekarang. Gw ga ada maksud apa-apa nulis di blog ini cuma pengen mengeluarkan pendapat gw mengenai hal ini.
Gambar di bawah ini bisa menggambarkan mengapa orang bekerja, atau bisa dikatakan motivasi mengapa orang memilih suatu pekerjaan tertentu. Hal ini berbicara atas pilihan dan konsekuensi atas pilihannya itu.
![]() | |||||||||||||||
| Carrer Triangle by Rene Suhardono, Your Job Is Not Your Career |
seseorang bekerja dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok, yaitu kompenasi (uang atau fasilitas lainnya), kepuasan kerja (bekarya dan menghasilkan sesuatu berdasarkan kemampuan/bakat) dan gaya hidup (berhubungan dengan kesenangan pribadi ataupun keluarga). Pengelompokan ini bukan berarti yang satu lebih dari yang lain, tetapi ini berbicara skala prioritas yang dimiliki seseorang. Skala prioritas inilah nanti yang memiliki konsekuensinya atas pilihan yang sudah di ambil.
Misalnya, seseorang yang bekerja di suatu perusahaan dan mendapatkan kompensasi (gaji) yang cukup tinggi dan mendapatkan fasilitas kantor yang sangat baik, dia memilih pekerjaan ini dan dia sangat sadar bahwa dia menikmati apa yang sudah diberikan perusahaan kepadanya, dan resikonya adalah mungkin saja dia tidak terlalu puas atas pekerjaan ini dan mengorbankan waktu bersenang-senang untuk dirinya (me time) atau orang lain. Tapi yang perlu di tekankan adalah adanya kompenasi dan fasilitas yang diterima dan ia memprioritaskan hal ini menjadi yang teratas dalam hal yang men-drive dia bekerja. Contoh ini bisa saja dibalik keadaannya, misalnya seseorang yang bekerja di suatu perusahaan yang ia merasakan kepuasan bekerja karena sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Ia menikmati pekerjaan ini dan sadar akan konsekuensinya, yang mungkin saja benefit atau fasilitasnya agak sedikit berbeda dari yang diharapkan. Namun ia sadar akan pilihan akan prioritasnnya.
Orang yang sudah melakukan skala prioritas atas pilihan karir hidupnya ini, pasti tidak akan mengeluh jika harus bekerja extra-time ataupun harus bekerja di weekend suatu waktu. Hal ini karena ia sudah menentukan pilihan atas karirnya dan sudah mengerti konsekuensi atas pilihannya tersebut.
Yang menjadi masalah adalah, bagaimana seseorang yang bekerja namun ia tidak masuk kedalam tiga kelompok ini, baik kompensasi, kepuasan kerja atau gaya hidup dan tentu saja ia juga tidak bisa menentukan skala prioritas atas pilihan karirnya. Jalan keluarnya adalah menemukan karir dimana ia setidaknya menemukan alasan mengapa ia harus bekerja sehingga ia tidak perlu mengeluh atau menggerutu atas pilihan karirnya. Ia tidak perlu mengeluh ketika ia harus datang pagi, meeting hingga larut malam atau weekend yang harus bekerja.
Jadi ketika mengeluh atau mengerutu, mungkin harus menentukan ia memilih pekerjaan masuk ke dalam kelompok apa, dan ketika sudah menemukan alasannya dan menentukan skala prioritas, otomatis ia akan menemukan resiko atau konsekuensi atas pilihannya. Nah, jika tidak menemukan hal-hal itu, mungkin harus menemukan karir dimana ia tau atas pilihan dari konsekuensinya.
Karena, hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya,
Hal ini sama saja ketika memilih untuk makan nangka, ia sudah tau bahwa dalam menikmati buahnya, ada getah-getah yang harus dibersihkan.
oh ya sekali lagi, ini cuma #justsaying bukan untuk menggurui atau apalah,,
senangnya berbagi...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar